Advertisements
Home / Catatan Harian / Jepang / Cara Dokter di Jepang Memberikan Antibiotik dan Antivirus

Cara Dokter di Jepang Memberikan Antibiotik dan Antivirus

Nazroel.id – 3 tahun hidup di Jepang akhirnya merasakan tangan ini harus diinfus dan itu terjadi 4 hari sebelum PhD Defense karena positif terkena virus influenza type A. Bukan hanya harus di infus, dokter memberikan antibiotik berbasis hasil pemeriksaan laboratorium dari sampel darah dan urine.

Berawal dari gejala flu, batuk, sakit kepala, nyeri badan, dan sedikit demam sejak 2 hari lalu. Teman saya ‘si temon’ merasa khawatir karena hari kamis nanti akan melaksanakan sidang terbuka program doktoral.

Sebenarnya saya telah memiliki obat batuk pilek yang dibawa  dari indonesia ditambah multivitamin. Tapi, ada benarnya juga tidak ada salahnya untuk mendatangi klinik khusus yang menangani tenggorokan hidung telinga (THT).

Klinik THT di Jepang

Akhirnya pergilah ke klinik tersebut dan diminta untuk mengisi data dengan menyerahkan kartu asuransi sejenis BPJS di Indonesia. Data yang harus diisi diantaranya gejala yang diderita, sekaligus diminta untuk cek urine, temperature tubuh dan tekanan darah.

Selang beberapa menit dokter memanggil saya dan dilakukan pemeriksaan prosedural seperti cek mulut, detak jantung serta bertanya gejala dan berapa lama telah diderita.

Dari sini dokter tidak langsung memberikan resep. Perlu dilakukan cek darah dan swipe tes untuk influenza.

Ternyata dari hasil pemeriksaan darah, semua normal terkecuali ada protein marker untuk inflamasi yang berada diatas normal. Disinilah dokter merekomendasikan untuk diberikan antibiotik flomox, Cefcapene pivoxil hydrochloride.

Cefcapene Pivoxil Hidroklorida merupakan agen antibakteri yang telah menunjukkan aktivitas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Senyawa ini telah menunjukkan aktivitas antibakteri pada 90% penghambatan vitro dari Staphylococcus aureus A, B, C, F, dan G streptokokus dan Streptococcus pneumoniae isolat pada konsentrasi kurang dari atau sama dengan 2μg / ml dan masing-masing 0.12μg / ml. Dalam penelitian yang sama 100% dari isolat Haemophilus influenzae bisa dihambat pada konsentrasi sama atau kurang dari 0.06μg / ml.

Baca ini yuu :   Alasan Profesor di Jepang Pada Umumnya Banyak Memiliki Publikasi Internasional

Selain antibiotik dokter memberikan anti-radang dan antipiretik Loxoprofen Sodium Hydrate (Lobu 60 mg). Obat racikan dalam bentuk granul 1 g untuk meredakan gejala flu. Syrup untuk obat batuknya.

Etiket dan obat racikan dari Apotek di Jepang

Selain itu, hasi swipe test pada cairan hidung menunjukkan positif virus influenza type A. Kemudian dokter merekomendasikan untuk memilih 4 macam pengobatan.

Positif Virus Influenza A

Pertama tamiflu kapsul, kedua dan ketiga produk bermerk yang lebih paten. Terakhir adalah pilihan infus yang menurutnya paling potent. Akhirnya dipilihlah infus intravena Rapiacta 300 mg yang langsung diobati di klinik tersebut. Obat antiviral terbaru untuk mengatasi Influenza.

Rapiacta 300 mg

Total biaya yang dikeluarkan dengan potongan harga 70% sebesar 4690 yes atau 520rb rupiah.


Untuk menebus resep, di depan klinik tersebut ada apotek. Biaya obat lebih murah sekitar 860 yen atau 100 ribu rupiah.

Apotek di Jepang

Di Jepang, terutama di laboratorium saya saat ini, ketika seseorang positif terkena virus influenza maka tidak diperbolehkan untuk ngampus. Dengan alasan agar tidak menular dengan member lainnya. Semoga fit kembali ya kamis nanti.

Advertisements

About nazroelwathoni

Hi, selamat datang di blog pribadi saya yang dikemas santai dan mengutamakan manfaat. Hanya sekedar menuliskan apa yang ada di kepala saya ketika menulis di blog ini. Semoga bermanfaat!

Check Also

vakum

Cara, Syarat, Jadwal dan Harga Mengirim Barang Jumlah Besar dari Jepang Menggunakan Kontainer

Nazroel.id – Masa kepulangan ke Indonesia setelah tugas belajar atau bekerja di Jepang adalah masa …

Leave a Reply

%d bloggers like this: